Keindahan Dunia Membuatku Lupa
Alhamdulillah
liburan perdana telah tiba “kataku dalam hati”. Ku pancarkan sebuah senyuman
bahagia disiang hari yang begitu cerah. Terasa begitu indah setelah 1 semester
aku berjuang, tak kala telah tiba dipenghujung semester. Ditambah sang raja
siang yang mulai tertutup awan mendung, yang menjadikan keadaan disekeliling
sedikit buruk. Aku mulai teringat bahwa besok akan ada acara penutupan
mentoring dibukit ka’ba, yang diadakan
oleh UKM GSI(salah satu organisasi kerohanian yang ada di Fakultas MIPA UNIB).
Betapa bahagianya aku karena bisa melangkahkan kaki kebukit kaba yang berada
dikota curup, salah satu tempat yang belum pernah aku kunjungi sebelumnya.
Kemudian,
lantunan suara adzan magrib mulai terdengar ditelinga kananku. Segera aku
membasahi tubuhku dengan percikan air wudhu, aku shalat berjama’ah bersama
teman-temanku yang diimami oleh kk Randa. Ia merupakan Ketua Umum Ukm Gsi.
Laki-laki yang taat terhadap ajaran tauhid, ia juga menginpirasiku untuk selalu istiqomah dijalan Allah Swt.
Seusai shalat kukabari ibuku yang ada dirumah, ternyata handphone ku hanya bisa
sms lantaran pulsa yang tak cukup untuk menelpon. “ass..... Buk besok aku nggax
jadi pulang, karena besok aku dan teman-teman akan mendaki bukit ka’ba yang ada
dicurup”sms ku kepada ibu. Tak lama kemudian ibu membalas sms ku “iya nak
hati-hati, kapan kau mau pulang?”. Aku pun kembali membalas sms darinya “lusa
buk,mohon doa dan restunya bukJ”
Kesokan
harinya aku dan sebagian anggota Ukm Gsi berkumpul didepan gerbang Unib. Kami
kedatangan seorang pria yang begitu tampan. Nama nya kk Ridho, mahasiswa
Universitas Indonesia bagian Farmasi. Ia sahabat kk Randa sewaktu Sma, setelah
perkenalan dan sharing bersama kami berangakat menuju kota Curup. Ditengah perjalanan
hujan turun begitu deras, sejenak kami memberhentikan perjalanan di sebuah pos
ronda yang berada dipinggir jalan. Rintik hujan tak begitu lebat lagi, kami
melanjutkan perjalanan. Ketika memasuki kota curup, hujan kembali turun
menyambut kedatangan kami. Terpaksa
harus memberhentikan lagi perjalanan, tak terasa hampir memasuki waktu shalat
magrib. Secepat nya kami menghidupkan motor dan berangkat menuju kota curup. Setelah
tiba dicurup, kami shalat disebuah masjid yang terletek ditengah kota itu. Seusai
shalat kami pergi kerumah kk randa sambil menunggu adzan isya’ dirumahnya, dan
shalat isya’ berjama’ah di masjid dekat rumah kk randa.
Waktu
fajar tiba, adzan subuh pun telah terdengar. Rasa nya enggan aku membasahi
tubuhku dengan air yang begitu dingin untuk berwudhu. Tak lama kemudian
putihnya awan pagi mulai terlihat embun yang mulai meninggalkan bukit, kami
bersiap siap untuk melanjutkan perjalan menuju puncak bukit. Kemudian gerimis
yang tak diundang datang, tak menghentikan langkah kami untuk dapat kepuncak
bukit itu. Tak terasa sudah berada ditengah bukit, setelah menempuh 3 jam
perjalanan tanpa mengendarai motor.”subhanallah” tak henti-hentinya hatiku
berkata alangkah indahnya ciptaanmu, engkau maha agung. Aku pun tak akan pernah
lupa untuk mengambil foto ditempat yang subhanallah indah ini. Keindahan bukit
ini membuatku lupa akan kebiasaan ku “sudah tepat jam 11.00”. segera kuambil
botol minuman yang ada ditasku, dengan sebotol air inilah aku berwudhu untuk
shalat dhuha lantaran air yang ada dibukit
ini cukup jauh, bahkan rasa sakit dan
pegal-pegal terasa dikakiku. Dihamparan kerikil aku shalat beralaskan jacket
yang tak begitu tebal, sehingga membuat kening ini sakit ketika bersujud.
Aku
pun tak ingin ketinggalan untuk menyaksikan kawa hidup. kususul rombongan
seusai shalat dhuha dengan semangatnya aku melewati bebatuan yang berada
ditebing jalan untuk dapat sampai kesana. Setelah aku mengambil beberapa gambar
dikawa itu kami melanjutkan perjalanan, untuk dapat mencapai puncak. Panas
matahari yang tak begitu terasa membuat aku dan rombongan lupa akan Shalat
Dzuhur. Akan tetapi, walaupun waktu dzuhur telah lewat tak menghalangi niat
suci ini untuk melaksanakan shalat berjama’ah dibukit itu.
Kabut
yang begitu tebal dan udara dingin terasa ketika berada diatas puncak. Melihat
betapa kecilnya manusia yang ada dibawah sana apalagi jika dilihat dari
langit(ujarku dalam hati). Terbukti bahwa begitu kecilnya manusia dipandangan
Alllah Swt, membuatku banyak beristigfar atas ciptaannya. Setelah melakukan
penutupan mentoring diatas puncak bukit, kami langsung turun dari puncak.
Ketika diperjalanan menuju bengkulu “gubrak” musibah datang pada salah satu
rekan kami, Joko dan Dedi. Motornya yang tergelincir ketika melewati aspal yang
terkena tanah kuning bercampur air. Beruntung akhi Dedi tidak apa-apa begitu
pula dengan akhi joko yang sedikit luka bagian kanan pelipisnya. Kami
melanjutkan perjalanan untuk mencari masjid untuk membersihkan luka dan kotoran
pada mereka berdua. Masjid pun kami temui yang tidak jauh dengan lokasi
kejadian.
Terasa
begitu sangat lelah dan meriang seketika tiba dikost, membuatku tak sadarkan
diri dan langsung menuju tempat tidurku. Aku pun lupa akan janjiku kepada
ibuku, shalat pun tak kukerjakan malam itu. Suara bising kenalpot motor yang
terdengan dari kamar ku membuatku terbangun dari tidurku, tapat jam 08.00 aku
bangun dengan wajah kagetku . aku tak mungkin pulang dengan baju-baju yang
belum aku siapkan , tiket bis pun belum aku pesan dan juga tulang-tulang ku
yang tak seperti dialiri darah. Rasanya kaku semua badanku. Bahkan akupun tak
mengabari ibuku bahwa hari ini tak jadi pulang karena hpku yang tak aktif dan
susah diaktifkan . juga tak terpikir dibenakku untuk meminjam handphone teman
kostku, seharian aku hanya tidur..tidur..tidur dan tidur tanpa memikirkan
janjiku kepada ibu yang membuat ia menunggu dan mengkhawatirkanku.
Suara
adzan ashar pun terdengar kembali, lekas aku sholat ashar dan membaca 1 lembar
al-qur’an. Tiba- tiba revi datang dan mengetok pintu “assalammualikum”. “waalaikum
sallam” jawabku dari dalam “Ternyata kamu rev” sambil membukakkan pintu
untuknya.
“Aku
ingin meminjam kabel listrik mu untuk engedit film” celetuk si revi
“iya
rev, boleh kok” jawabku kepada revi
“bel,
mau bantu aku tuk engedit nggax?” tanya revi padaku
“
oh boleh. tapi tunggu bentar ya rev, aku ganti baju terlebih dahulu” jawabku
sambil menuju kamarku
Lalu
aku dan revi pergi ketempat nya siska sebagai markas pengeditan film kami dan
ternta disanah sudah ada siska,ica, wiji, dan ony “assalammualaikum teman” sapa
ku kepada mereka, serentak mereka menjawab “waalaikum salam”. Tiba- tiba
tannisa datang dengan baju gamis nya yang menyapu lantai membuat kami tertawa
geli melihatya “ha,,ha,,ha..hahah” dengan
wajah malunya tannisa menghampiri kami. Kemudian hp ku bergetar, “Cie
cie cie hp nya bergetar tu” celetuk tannisa dengan gaya alainya. Ibu menelponku
“Assalammualaikum
bu” sapa ku kepada ibu
“waalaikummusallam.
“kemaren kau bilang mau pulang ,udah ditunggu tunggu dari tadi tapi tak
muncul-muncul” dengan suara lantang nya ibu berbicara
“maaf
bu,tadi aku masih lelah” aku menjawab
“kamu
itu kebiasaan kalo nggax pulang ya kasih kabar. Ibu menunggu udah lamah
seharian ibu tidak makan memikirkan mu”
aku menjawab
“sama buk aku juga belum makan” sambil tertawa berharap ibu bisa tertawa
“sudah..sudah....sudah...
pokoknya ibu nggax mau tau kamu harus pulang besok” jawab ibu yang masih marah
dan langsung memutuskan telepon. Aku pun langsung menelpon sopir mobil yang
akan membawa ku pulang besok, dan memikirkan betapa berdosa nya aku. Rasa ini
terus menghantuiku ingin rasa nya aku memeluk dan mintak maaf pada ibu ku jika
ia ada disampingku saat itu. Keesokan harinya aku pulang tanpa memberi kabar
terlebih dahulu,”supaya menjadi kejutan” pikirku dalam hati agar ibu tak marah
lagi dan menghabiskan sisa liburku bersama keluarga.
(
Bengkulu,11 january 2015)